Lahan Gambut Bernilai Penting Bagi Dunia, Anugerah atau Petaka?

Selasa, Oktober 25, 2022

Apa yang ada di benak kalian kalau mendengar kata "Gambut" atau "Lahan Gambut"? Mungkin ada beberapa dari teman-teman yang tahu tentang gambut atau mungkin baru pernah dengar? Kalau aku sih memang sering dengar tapi enggak terlalu tahu banyak tentang lahan gambut. Aku cuma tahu kalau gambut itu terbentuk dari bahan-bahan organik yang tidak membusuk sempurna sehingga menjadi sebuah lahan yang basah. Dan lahan gambut itu sering dikeringkan atau dibakar kemudian dialihfungsikan jadi lahan untuk kelapa sawit, untuk industri tertentu, jadi lahan perkebunan atau pertanian. Dulu aku pikir juga lahan gambut adalah lahan biasa yang memang enggak besar fungsinya, tapi ternyata aku salah.

Senang banget rasanya waktu Online Gathering bareng sama #EcoBloggerSquad Oktober ini membahas tentang Lahan Gambut. Pematerinya adalah Kak Ola Abas dari Pantau Gambut dan diskusi jadi lebih seru dan menarik. Tentunya makin nambah wawasan dan ilmu aku juga. Yuk let's go kita kenalan sama lahan gambut!

Sebenarnya lahan gambut itu apa sih? Lahan gambut adalah jenis lahan basah yang terbentuk dari material-material organik seperti serasah, ranting pohon, akar pohon, dan kayu yang tidak terdekomposisi atau tidak membusuk secara sempurna dan lambat sehingga menumpuk dan membentuk lapisan gambut. Proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun, bahkan untuk membentuk gambut sedalam 4 meter saja dibutuhkan waktu 2000 tahun, wow!
Dimulai dari adanya cekungan atau genangan air yang sangat luas yang mengalami pendangkalan yang terjadi akibat tanaman yang tumbuh di lahan basah (material-material organik) kemudian mati, menumpuk di dasar cekungan, lalu mengalami pembusukan yang lambat karena tidak adanya udara, secara perlahan dan bertahap.
Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.


Ternyata tanah gambut punya karakteristik spesifik yang berbeda dengan tanah mineral pada umumnya. Tadinya aku pikir sama saja dengan tanah-tanah biasa. Oleh karena itu pengelolaan tanaman diatas tanah gambut pun bakalan jauh berbeda dengan di tanah mineral biasa.
sumber : Pantau Gambut

Jenis-jenis gambut pun juga ada beberapa, dibedakan berdasarkan tingkat kedalaman dan lokasinya. 
Tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung sehingga jika gambut tersebut dikeringkan, emisi karbon yang dikeluarkan akan semakin banyak.

Berdasarkan lokasi, jenis gambut dibedakan menjadi 3 yaitu :
- Gambut Pantai, gambut yang terbentuk dekat pantai dan dipengaruhi pasang-surut laut. Tanah gambut pantai mendapatkan pengayaan mineral dari air laut. Vegetasi gambut pantai didominasi oleh hutan mangrove.
- Gambut Pedalaman, yaitu gambut yang hanya dipengaruhi oleh air hujan karena jauh dari laut. Gambut pedalaman didominasi oleh vegetasi hutan kayu-kayuan berdaun lebar.
- Gambut Transisi, yaitu gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah pantai dan pedalaman, dan memiliki sifat diantara gambut pantai dan gambut pedalaman. Vegetasi di gambut transisi didominasi oleh hutan mangrove dan kayu-kayuan berdaun lebar.

Lalu bagaimanakah keadaan lahan gambut di negara kita, Indonesia? Luas lahan gambut di Indonesia sebenarnya belum dapat dipastikan. Di tahun 2019, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dan Balai Penelitian Tanah memperkirakan ada sekitar 13,43 juta hektar lahan gambut di Indonesia. Tapi luasnya di tahun 2019 sudah mengalami penurunan karena di tahun 2011 lahan gambut di Indonesia adalah 14,93 juta hektar.

sumber : Pantau Gambut

Tahukah kamu, jika Indonesia berada di urutan ke-4 terbesar di dunia setelah Kanada, Rusia dan Amerika Serikat? Indonesia juga ada di urutan ke-2 sebagai lahan gambut tropis terluas di dunia.
Dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13% - 15% terdapat di lahan gambut Indonesia loh, yaitu 35 - 40 ribu spesies pohon tinggi. Selain itu, terdapat 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan di lahan gambut.

Beberapa fauna merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature (IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti buaya senyulong, langur, orang utan, harimau Sumatera, beruang madu, dan macan dahan.

Lahan gambut Indonesia sebenarnya bernilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 57 gigaton karbon, membuat kawasan ini sebagai salah satu kawasan utama penyimpan karbon dunia. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon. Berkah banget ya.

Oiya, lahan gambut tropis tertua di dunia juga ternyata ditemukan di Indonesia tepatnya di pedalaman Kalimantan. Lahan gambut purba ini diperkirakan telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu, memiliki lapisan yang sangat dalam yaitu 18 meter yang setara dengan tinggi bangunan enam lantai.

Lahan Gambut Bukan Lahan Terbuang, Dia Punya Peran yang Cukup Penting

Lahan gambut berperan penting sebagai habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan juga membantu menunjang perekonomian masyarakat lokal. Berbagai macam flora dan fauna dapat tumbuh dan tinggal di lahan gambut. Beberapa jenis flora sangat berguna bagi masyarakat sehingga perlu dibudidayakan, sementara itu fauna yang tinggal di lahan gambut berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup ekosistem gambut lainnya.
Selain itu berbagai tanaman dan hewan yang habitatnya di lahan gambut juga bisa menjadi sumber pangan dan pendapatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut.

Lahan gambut juga bisa mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Gambut memiliki pori-pori yang besar karena teksturnya yang tidak padat. Makanya tanah gambut punya kemampuan menyimpan air yang jauh lebih tinggi dibanding tanah mineral. Lahan gambut bisa menyimpan air di musim hujan sehingga area sekitarnya tidak banjir dan di musim kemarau air yang tersimpan di gambut dapat dilepaskan ke sungai dan area sekitarnya sehingga tidak mengalami kekeringan. Lahan gambut juga mengandung dua puluh kali lipat karbon lebih banyak dibanding dengan lahan mineral.
sumber : Pantau Gambut

Lahan gambut ternyata sepenting itu ya teman-teman. Tapi la
han gambut masih sering dianggap lahan terbuang yang bisa dikeringkan dan dialihfungsikan. Ini yang jadi salah satu penyebab utama degradasi dan alih fungsi lahan gambut dan akibat semakin terbatasnya ketersediaan lahan mineral. Biasanya lahan gambut  itu dikeringkan secara terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut demi kepentingan pertanian dan perkebunan berskala besar. Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang terus menerus itulah yang menjadi sumber emisi karbon. Kurang lebih begini alurnya.
sumber : Pantau Gambut

sumber : Pantau Gambut

sumber : Pantau Gambut

Dampaknya jadi bisa kemana-mana termasuk berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim karena tersebarnya asap & emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara. Karena kebanyakan alih fungsi lahan gambut menggunakan metode pengeringan, pembakaran, dan deforestasi sehingga melepaskan cadangan karbon di gambut ke atmosfer. Gambut yang terdegradasi akan menjadi kering dan mudah terbakar sehingga memperparah intensitas cadangan karbon yang lepas ke atmosfer. Duh, banyak banget ya akibat dari alih fungsi lahan gambut ini.

sumber : Regional Kompas

Pembakaran lahan gambut untuk dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit diperkirakan dapat melepaskan hingga 427,2 ton karbon setiap hektar. Sehingga total emisi karbon dari lahan gambut yang terdegradasi diperkirakan mencapai 63% dari total emisi karbon dunia.

Kebakaran di lahan gambut juga akan melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer seperti metana, yaitu jenis gas rumah kaca yang 21 kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida karena kemampuan menahan panas yang lebih tinggi. Metana yang terlepas akibat dari kebakaran lahan gambut jumlahnya bisa mencapai hingga 10 kali lipat lebih banyak daripada kebakaran di jenis lahan lain.
Gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer akan menahan panas dari matahari sehingga meningkatkan suhu bumi. Proses yang dikenal sebagai efek rumah kaca ini dapat mempercepat laju perubahan iklim.

Singkatnya, selimut polusi akan terjadi apabila emisi gas rumah kaca yang terus menerus dan semakin banyak terlepas ke permukaan bumi. Bumi akan diselimuti oleh kumpulan gas-gas emisi rumah kaca yang akan membuat bumi semakin panas dan menambah cepat laju perubahan iklim. Diperparah lagi dengan polusi-polusi dari kendaraan, pabrik, pembangkit listrik dari batubara.
Ini akan terus terjadi apabila tidak ada upaya serius untuk mengubahnya. Semoga makin banyak yang bisa ikut serta dalam aksi pemulihan lahan gambut - restorasi dengan penanaman kembali. Pemerintah juga harus berkomitmen serius dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut, menegakkan hukum bagi korporasi pelaku perusakkan hutan dan lahan gambut. 


Yuk teman-teman bantu ikut serta menyebarkan info dan awareness tentang lahan gambut, biar makin banyak yang tahu dan rutin menyuarakan isu perlindungan lahan gambut. Semangat!

You Might Also Like

4 comment

  1. Gambut punya peran penting dalam kehidupan manusia dan kelestarian ekosistem ya mbak
    Jangan sampai dialihfungsikan

    BalasHapus
  2. Di tempatku gambit dimana2 Mba, dulu waktu sekolah aku bingung ini lahan apa Koq ya semak2 doank, diapain gitu kek ya biar berfaedah. Sekarang udah banyak yg dipakai buat pembangunan tapi justru baru sekali aku paham kalo gambut itu bagusnya ya dibiarkan tetap gambut karena karbon di dalamnya jangan sampai rusak dan menambah emisi gas rumah kaca

    BalasHapus
  3. Wahhhh ternyata proses pembentukan gambut berlangsung selama ribuan tahun, bahkan untuk membentuk gambut sedalam 4 meter saja dibutuhkan waktu 2000 tahun, wow!
    Gitu kalau ngerusak cepet banget sekejak mata, padahal dampak kerusakan gambut ini juga membawa petaka buat manusia sendiri ya.

    BalasHapus
  4. dikira gambut lahan biasa, ternyata ia banyak manfaatnya tapi bisa bahaya jika ga diurus ya kak. huhu. sedihnya kalau udah diselimuti polusi kaya gini ya

    BalasHapus

Like us on Facebook

Part Of

Warung Blogger Blogger Perempuan Indonesian Female Bloggers Jakarta Beauty Blogger Chu-One Network Mama Daring