}

28/02/2012

"Sendu Ramadhan"

“Ratu, ke apartemen dong! Gue udah siapin Draft Beer nih. Oh ya temen gue dari Australia baru dateng, not bad lah buat lo pake. Hehehe...” suara Elle dari seberang telepon.
            “Lo tau aja sih apa yang gue butuhin. Males banget dirumah, Papa marah-marah sama gue. Oke deh. Gue berangkat sekarang. Wait me,baby!” kata Ratu senang. 
            Tak sampai limabelas menit, Honda Jazz putih sudah keluar dari garasi rumah mewah tersebut berbarengan dengan suara adzan Isya berkumandang dari Masjid. Tanda panggilan umat muslim untuk solat Isya dan solat Taraweh. Tapi bagaimana dengan Ratu? Ya. Ratu segera melarikan mobilnya menuju apartemen Elle, temannya. Disana sudah ada Daniel, cowok bule yang menunggunya untuk having sex. Di bulan Ramadhan ini.

            Papa menghampiri Ratu dan mencoba mengajaknya bicara lagi setelah Ratu sempat ngambek kemarin.
            “Kamu masih nggak mau bantu Nisa? Nenek bilang sama Papa kalo Nisa pengen banget ketemu kamu. Nisa sakit. Leukimia akut. Dia butuh support dari orang-orang terdekatnya. Dia bilang pngen banget ketemu kamu walaupun sebentar. Masa kamu nggak kasihan?”
            Ratu terdiam dan pura-pura asyik menonton DVD.
            “Kamu denger Papa?” ujar Papa berusaha menahan emosi.
            “Berapa kali sih aku bilang, aku sama sekali nggak kenal Nisa! Walaupun Papa bilang kalau dia sahabat kecil aku, tetep aja aku nggak inget. Jangan dipaksa Pa!” akhirnya Ratu angkat bicara.
            “Oke kalau gitu. Tapi nggak ada salahnya kamu nemuin dia walaupun sebentar. Kamu jenguk dan kamu bisa kasih semangat ke dia. Kamu kan juga bisa sekalian Lebaran dirumah Nenek. Papa sama Mama nanti nyusul ke Subang.” kata Papa.
            Ratu berfikir sejenak. Sebenarnya ia malas kerumah Neneknya yang berada di Subang, Jawa Barat. Disana, sang Nenek sangat menerapkan sikap disiplin dalam keluarga. Itu yang membuat Ratu tidak betah berlama-lama disana. Tapi apa boleh buat. Papa dan Mama mengancam akan membatalkan hadiah mobil Alphard yang rupanya akan menjadi kado ulangtahun Ratu yang ke-20 sebulan lagi. Mereka juga akan membatalkan rencana pesta ulangtahun mewah putri semata wayangnya itu. 
            “Iya Pa, besok aku berangkat ke Subang” jawab Ratu singkat.

            Keesokan harinya, Elle datang kerumah Ratu saat ia sedang packing. Kue-kue Lebaran sudah dititipkan Mama pada Ratu untuk diberikan kepada Nenek dan keluarga besar di Subang. 
            “Lo jadi berangkat Ra?” tanya Elle sembari melempar sekaleng Guiness keatas kasur.
            “Iya lah. Kalau gue nggak nurutin permintaan bokap nyokap gue, Alphard gue bakalan dicabut. Dan ulangtahun gue nggak bakal ada party. Gila, kejam banget nggak tuh!” gerutu Ratu.  
            “Parah banget Ra. Yaudah Lebaran juga bentar lagi. Abis Lebaran lo langsung buru-buru pulang. Emang Nisa siapa sih? Sakit apa dia?” kata Elle.
            “Iya El. Gue nggak bakalan betah disana. Nenek gue disiplin banget. Belum lagi disana gue pasti diomelin kalau nggak puasa. You know lah gue males banget puasa, bikin haus aja! Masalah Nisa gue sama sekali nggak inget dia siapa. Kata Nenek gue sih dia sakit Leukimia. Aduh ngerepotin banget tau nggak!” Seru Ratu jengkel.
            “Hahaha... Kasian banget lo suruh ngerawat orang yang sekarat gitu. Paling dia cuma cewek kampung yang ngefans trus caper deh sama lo. Waktu lo masih kecil dan ikut Nenek lo di Subang, ada nggak temen lo yang ngefans sama lo?” Elle menggoda Ratu.
            “Apaan sih Elle... Lupa ah. Laian itu udah dulu banget dan gue juga ikut Nenek gue nggak lama. Wajar lah kalau gue lupa. Lagian juga nggak penting juga buat gue inget-inget orang kampung yang sama sekali nggak ada keren-kerennya.” Kata Ratu.
            “Hihi... Yaudah hati-hati dijalan ya, nggak usah ngebut bawa mobilnya. Kalau udah nyampe telfon gue.” ujar Elle sambil mengecup kedua pipi Ratu.
            “Iya sayang... Salam kangen ya buat Daniel.”  kata Ratu genit.

            Sampai di Subang, keluarga besar Neneknya menyambut kedatangan Ratu dengan hangat. Maklum mereka sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Ratu karena Ratu selalu menolak jika diajak ikut pulang kampung. Terlebih lagi Nenek. Beliau sangat gembira bertemu Ratu.
            Dirumah Nenek, Ratu benar-benar merasakan kehangatan keluarga yang jarang sekali ia dapatkan dirumah. Apalagi sekarang Nenek tidak galak seperti dulu.
           Kedua orangtua Ratu sibuk bekerja dan Ratu hanya anak semata wayang. Wajar jika ia kurang kasih sayang orangtua dan kesepian dirumah. Oleh karena itu ia tumbuh menjadi anak yang sombong, bergaya hidup bebas dan kurang pengetahuan agamanya. Saat bulan Ramadhan seperti ini, Ratu jarang sekali berpuasa, solat Taraweh apalagi Tadarus. Ia lebih memilih party bersama teman-temannya, having sex dan berfoya-foya.

            Keesokan paginya, Nenek membangunkan Ratu dan berkata bahwa Nisa menanyakan apakah Ratu sudah tiba di Subang atau belum. Nenek akan mengantar Ratu untuk bertemu Nisa dirumahnya. Ratu patuh dengan Neneknya, walau sejujurnya ia sangat malas.
            Setelah sarapan, mereka bergegas pergi kerumah Nisa yang ternyata dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Tak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba di depan sebuah rumah sederhana. Setelah Nenek mengucapkan salam, dari dalam rumah keluar seorang wanita setengah baya. Ia kaget begitu melihat seseorang yang datang bersama Nenek. Ia spontan memeluk Ratu dan mempersilakan masuk. Dengan jengah Ratu masuk ke dalam. 
            “Sebentar ya nak Ratu, saya buatkan minum” kata wanita tersebut yang ternyata adalah Ibunda Nisa.
            Tiba-tiba seorang perempuan berjilbab dengan umur yang tidak jauh beda dengan Ratu keluar dari dalam kamar menggunakan kursi roda.
            “Ratu! Subhanallah. Sekarang kamu cantik sekali. Nek, sudah berapa lama ya aku nggak ketemu Ratu?” Perempuan tersebut berkata setengah menjerit.
            “Sudah lama sekali nak Nisa. Sejak Ratu sudah tidak ikut Nenek lagi. Kira-kira delapan belas tahun lah.” Nenek menjawab sambil tersenyum.
            Ratu masih terdiam. Otaknya sibuk berfikir dan mengingat-ingat wajah perempuan berjilbab yang ada di depannya. Ia merasa tak asing dengan wajah itu. Itukah Nisa? Tapi aku tak merasa pernah mengenalnya. Aku merasa tak pernah punya teman seperti dia. Dulu? Ah...Aku sama sekali tidak ingat!
Bermacam pertanyaan muncul di benaknya.
            “Ra, Nenek tinggal pulang ya. Kamu ngobrol-ngobrol aja disini. Nanti kalo kamu lupa jalan pulang, kamu telfon nanti Nenek suruh Mang Supri buat jemput ya.” Suara Nenek mengagetkan Ratu.
            “Iya Nek. Aku apal jalan pulang kok.” Jawab Ratu.

            Setelah Nenek pulang, mereka berdua terdiam. Ratu tidak tahu harus berkata apa untuk membuka obrolan. Ia hanya asyik memainkan Blackberry-nya. Tiba-tiba Nisa berkata, “Ratu kamu apa kabar?”
            “Ya? Apa? Oh, gue. Gue baik-baik aja kok.” Jawab Ratu sekenarnya.
            “Alhamdulillah. Kamu sekarang cantik banget yah. Tambah cantik maksudku. Dari dulu aja udah cantik.” Nisa memuji sambil tersenyum.
            “Hahaha...makasih deh. Sorry, lo siapa ya?” tanya Ratu cuek.
            “Astaghfirullah. Ratu kamu nggak inget aku? Kamu lupa sama sahabat kecil kamu?” air muka Nisa kontan berubah.
            “Sorry. Bukan maksud nyinggung elo ya tapi gue emang lupa.” Kata Ratu kemudian.
            “Aku Nisa. Kamu inget dulu kita sering naik sepeda bareng? Dulu kita sering kejar-kejaran di padang ilalang? Dulu kita sering jalan-jalan di pematang sawah? Boneka jerami yang aku kasih waktu ulangtahun kamu masih ada? Udah nggak ada ya.” Nisa berkata sedih.
            “Ya ampun sorry ya. Tapi gue bener-bener nggak inget. Gue daritadi udah berusaha inget-inget wajah lo yang rasanya udah nggak asing buat gue tapi susah banget. Ohya, gue harus pulang nih. Makasih ya.” Ratu pamit dengan tiba-tiba.
            “Ya Allah. Ya sudah kalau gitu. Maaf aku nggak bisa anter kamu. Kamu tau kan kondisiku sekarang.” Sahut Nisa hampir menangis.
            “Oke. No problem. Gue inget jalannya kok. Lagian juga nggak jauh. See you, Nisa.” Ratu beranjak pergi.

*

            Saat tengah malam, Nisa solat Tahajud. Menangis dan berdoa.
            “Ya Allah, hamba hanya minta agar Ratu dapat bersama hamba sebelum engkau memanggil hamba karena penyakit ini Ya Allah. Hamba juga ingin sahabat hamba, Ratu dapat mendapat kebahagiaan dalm hidupnya dan engkau selalu melimpahkan berkah kepadanya. Amin Ya Rabbal Alamin.”

            Di tempat lain Ratu bermimpi. Mimpi aneh sekali.
            Bayangan dua orang anak kecil saling bergandengan tangan. Mereka berdua tertawa ceria seolah tak ada beban. Mereka bersepeda bersama. Kejar-kejaran di padang ilalang. Berjalan-jalan di pematang sawah sambil berceloteh riang. Bayangan anak perempuan berjibab yang memberi boneka jerami kepada anak perempuan lainnya seraya berkata “Selamat ulangtahun Ratu. Aku buat sendiri bonekanya loh buat nemenin kamu terus.”
            “Aku nggak mau pisah sama kamu!” seru anak perempuan penerima boneka.
           
           
            Bayangan lain di mimpi terlihat suasana duka. Seorang perempuan cantik terbujur kaku dan ada seorang perempuan berjilbab disampingnya menangis histeris sambil berkata, “Aku nggak mau kamu pergi ninggalin aku Ratu. Leukimia adalah penyakit aku. Bukan buat kamu. Tolong buka matamu Ratu!”

            Ratu terbangun.
            “Astaghfirullah!” sebuah kalimat yang jarang ia ucapkan tiba-tiba keluar dari mulutnya.
            Ya dia memang sahabatku. Sahabat kecilku, Nisa. Bodohnya aku yang melupakan semua tentang Nisa. Bukan. Bukan aku yang mati! Bukan juga Nisa. Ya Allah jangan ambil nyawaku dulu. Jangan ambl nyawa Nisa juga. Ya Allah maafkan hamba.
            Kalimat-kalimat tersebut muncul di otaknya.

            Ratu bergegas bersiap-siap untuk bertemu Nisa lagi. Sesampainya disana, ia meminta izin kepada Ibunda Nisa untuk mengajak Nisa berjalan-jalan.
            Sambil mendorong kursi rodanya, Ratu berkata pada Nisa, “Aku ingat semuanya. Kamu memang sahabat kecilku. Maafin aku ya karena kemarin aku sombong dan cuek sama kamu. Tapi itu bukan sengaja, aku emang bener-bener nggak bisa mengingat masa lalu. Sekarang aku mau ajak ke padang ilalang. Aku akan nemenin kamu terus sampai aku pulang ke Jakarta”
            “Aku senang kamu masih ingat sama aku. Terima kasih Ratu.” Senyum manis terpancar dari bibir Nisa.

            Begitulah setiap hari selama Ratu berada di Subang. Ia rajin mengunjungi Nisa. Membawakannya buah-buahan dan makanan. Mengajaknya berjalan-jalan. Atau hanya sekedar menemani Nisa mengobrol dirumah. Mengobrol tentang masa kecil mereka berdua. Mengobrol tentang kehidupan Ratu di Jakarta. Mengobrol tentang Nisa. Tentang penyakit Nisa. Tentang keluarga Nisa yang hidup pas-pasan. Tentang Nisa yang harus putus sekolah. Tentang Nisa yang harus membantu ibunya menerima pesanan jahitan untuk menghidupi adik-adiknya. Tentang bapak Nisa yang pemabuk lalu akhirnya meninggal dunia karena kecelakaan. Semua tentang Nisa yang membuat hati Ratu sedih.
            “Aku sakit Leukimia. Dan penyakitku udah sampai tahap akut. Dari berbagai sumber dokter yang aku denger, harapan hidup orang yang terkena Leukimia akut itu nggak lama Ra. Hanya sekitar beberapa minggu. Tapi aku ikhlas jika suatu saat Allah ambil nyawaku. Daripada aku hidup tapi ngerepotin orang lain. Bapak udah nggak ada. Dan uang Ibu sering nggak cukup untuk bawa aku terapi kesana kemari. Aku juga capek minum obat –obatan terus.” Nisa berkata dengan sendu saat mereka berdua sedang menikmati pemandangan sore hari dari atas bukit kecil di padang ilalang. Pandangannya menatap tajam ke depan. Wajahnya terlihat sangat tegar.
            “Kamu ngomong apa sih! Kamu nggak akan pergi Nisa. Kamu harus tetep semangat. Mana seorang Nisa yang dulu pernah bilang kalo jadi orang itu harus semangat. Semangat ngeraih cita-cita. Kemarin aku udah bilang Ibu kamu kalo aku yang bakal tanggung semua biaya buat terapi kamu. Nah kamunya juga harus optimis bahwa kamu masih bisa terus ngeliat dunia. Kamu pasti sembuh. Aku yakin. Dan kamu juga harus yakin. Please, jangan pesimis” Ratu membakar semangat Nisa.
            “Makasih banget ya Ratu. Kamu emang sahabatku yang paling baik. Semoga Allah membalas kebaikan kamu. Ohya, antar aku pulang yuk. Aku belum solat Ashar nih. Kamu juga belum kan? Nanti solat dirumahku saja” Nisa berkata sambil tertawa.
*
            Ratu termenung di kamar. Beberapa hari bersama Nisa membuatnya sadar bahwa selama ini dirinya sangat jauh dari Allah. Bayangkan saja, dalam kondisi sakit pun Nisa masih berusaha menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Ia tak pernah lupa untuk solat lima waktu meskipun ia lakukan di kursi roda. Belakangan Ratu baru tahu dari Nenek kalau Nisa punya penyakit lain selain Leukimia. Nisa lumpuh. Ia sudah tidak dapat berjalan semenjak lulus Sekolah Dasar. Jika keadaan memungkinkan, Nisa juga selalu berusaha untuk tidak meninggalkan solat Taraweh. Ia juga sangat rajin melakukan Tadarus.
            Ratu membandingkan Nisa dengan dirinya. Ia sangat malu. Dalam keadaan sehat saja ia jarang sekali berpuasa. Apalagi melakukan solat dan tadarus. Ia lebih sering mabuk-mabukan dan melakukan seks bebas bersama teman-temannya. Nisa juga sering mengingatkan Ratu untuk solat dan mengaji. Ia dengan senang hati menawarkan diri untuk membantu Ratu belajar mengaji. Tapi Ratu selalu punya sejuta alasan untuk menolaknya. 
             Astaghfirullahaladzim! Pekiknya dalam hati. 
            Ratu memutuskan untuk bertobat. Ia berjanji akan menjauhi semua kemaksiatan. Dan bertekad untuk mendekatkan diri pada Allah.
            Mulai besok ia akan berpuasa walaupun Ramadhan tinggal tiga hari lagi. Ia juga akan meminta Nisa mengajarinya membaca Al-Quran.

            Esok hari, Ratu kaget mengetahui Nisa tidak berada dirumahnya. Ternyata semalam Nisa muntah darah dan langsung dibawa kerumah sakit. Ratu bergegas menyusul. Disana, ia melihat Nisa terbaring lemah. Wajahnya sangat pucat. Matanya terpejam. Ratu berkata sambil menangis disamping Nisa, “Nisa, kamu harus sembuh. Katanya kamu mau ngajarin aku ngaji. Tadi aku kerumah kamu loh bawa Al-Quran. Aku semalem juga udah solat Tahajud. Aku minta sama Allah supaya kamu sembuh. Lebaran tiga hari lagi loh. Nanti kalo kamu udah sembuh kita jalan-jalan yuk malam takbiran. Besoknya kita solat Ied bareng. Aku mau liat kamu pake baju Lebaran yang kemarin kita beli. Pasti kamu cantik banget deh.”
            Nenek, Ibunda Nisa dan semua yang ada diruangan tersebut hanya bisa menangis sedih melihat kondisi Nisa. Mereka terus berdoa agar Nisa diberi kesembuhan.
            Dua hari kemudian bertepatan dengan malam takbiran kondisi Nisa membaik dan ia diizinkan pulang kerumah. Ratu selalu setia berada di dekat Nisa. Ia menjemput Nisa dan menemaninya dirumah.
            “Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar. La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar. Allahu akbar wa Li-Llahi l-hamd”
            Kalimat-kalimat takbir diserukan berulang kali untuk menyambut Idul Fitri. Terdengar sangat indah di telinga. Begitu juga dengan Ratu dan Nisa. Mereka juga ikut menyerukan kalimat takbir berbarengan dengan suara takbir dari Mesjid di dekat rumah mereka. 
            “Yaah kita nggak jadi takbiran sambil keliling Subang deh. Hehehe... Tapi nggak apa-apa yang penting adalah aku bisa malam takbiran sama sahabatku ini.” Ratu berkata riang sambil memeluk Nisa.
            Nisa membalas pelukan Ratu. Airmatanya mengalir deras. Ia tidak berkata apapun lagi selain lantunan kalimat takbir yang keluar dari mulutnya.
            Tiba-tiba Nisa berkata, “Ratu, aku mohon kamu mau maafin semua kesalahanku. Aku baru bisa tenang kalo orang-orang yang aku sayangi udah mau maafin semua kesalahan yang aku perbuat.” 
            “Aku juga minta maaf atas kesalahan-kesalahan aku ya. Kita semua pasti punya salah. Dan kita semua harus sama-sama membukakan pintu maaf bagi siapapun.” Jawab Ratu bijak.
            “Terima kasih Ratu. Aku harap kamu tetap jadi Ratu yang baik hati, rajin solat dan rajin mengaji. Selalu ingat Allah. Jangan pernah jauh dari-Nya. Aku doakan agar kamu selalu diberi kebahagiaan. Selalu dicurahkan nikmat, rahmat dan berkah dari Allah. Terima kasih karena kamu mau sempetin datang dan nemenin aku. Terima kasih kamu mau jadi sahabat yang paling baik buat aku” pesan Nisa sambil tersenyum.
            “Sama-sama Nisa. Aku akan selalu ingat pesan kamu. Insya Allah aku akan jalankan. Aku juga doain yang terbaik buat kamu. Aku yakin kamu pasti sembuh. Kamu emang sahabat yang benar-benar tulus dan apa adanya. Kita sahabat selamanya Nis.” Ratu berkata dengan mata berkaca-kaca.
            Tak disangka itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Keesokan harinya, terdengar kabar duka cita atas meninggalnya Annisa Rahmah Suci. Gadis sembilan belas tahun yang mengidap penyakit Leukimia.
            Rupanya Nisa telah yakin bahwa ajal telah berada di depan matanya. Saat malam takbir semalam, ia memutuskan tidur dengan memakai baju muslim yang akan dikenakan saat Lebaran. Yang dibelinya bersama Ratu. Lengkap dengan jilbab yang selalu ia pakai.
            Saat umat muslim bersuka cita merayakan kemenangan. Bersuka cita merayakan Idul Fitri, Nisa tertidur untuk selamanya. Wajahnya terlihat sangat pucat, namun senyum manis tersungging di bibir mungilnya. 

Selamat jalan, Nisa. 
  

4 comments:

  1. Sediiiiiih akhirnya, ini nyata atau fiksi??

    paragrafnya coba di enter satu-satu yah biar lebih nyaman di baca.. *just saran

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini fiksi :)

      ooh iya iya... bener juga. nanti aku perbaikin.. makasih banget ya sarannya hehe ;)

      Delete
  2. Kereenn bangeet kak :)
    tapi blum aku baca seluruhnya, aku bookmark dulu yaa :D

    Happy Blogging ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih yaaa :)
      okedeh sip.. selamat membaca :)

      Delete